Peristiwa Penting Perjalanan Persija Sebagai Macan Kemayoran

Cerita Di Balik Nama Macan Kemayoran, Julukan Persija Jakarta - Bola  Nusantara

Macan kemayoran biasa dijadikan nama panggilan bagi persija Jakarta. Sepakbola bergengsi di tanah air ini memang sedari dulu sudah diisi oleh pemain – pemain yang handal. Persija juga memiliki berbagai pemain unggul dan siap untuk membela squad persija hingga kelak mencapai kemenangan. Solidaritas antar tim juga tidak diragukan lagi karena seluruh tim persija solid dan kompak. Berikut tentang Peristiwa Penting Perjalanan Persija Sebagai Macan Kemayoran antara lain :

  1. Berhasil menjadi yang terbaik di liga Indonesia

Macan kemayoran persija juga menjadi salah satu club yang sukses. Keberhasilannya dan menjadi club yang terbaik di liga Indonesia membuat persija dikenal luas. Total keberhasilannya menjadi club terbaik ini pernah diraihnya hingga 11 kali. Persija menjadi salah satu club yang memiliki markas tak menentu. Tempat yang pernah dijadikan markas oleh persija kala itu adalah Lapangan petojo, Stadion menteng, Lapangan ikada, Stadion utama gelora bung karno dan Stadion lebak bulus.

 

  1. Berawal dari merah

Kelahiran persija menjadi angina segar bagi persebakbolaan nasional. Persija dikenal dan berdiri tegak dengan warna merah dan putih. Warna ini sudah tepat dipilih oleh persija karena kala itu sedang menghadapi perjuangan yang besar. Persija yang dulunya bernama VIJ mewujudkan perlawanan melawan penjajahan belanda dengan jalur sepakbola. Persija merupakan salah satu aspek semangat Indonesia dala mewujudkan kemerdekaan dan perlawanan.

 

  1. Mendapatkan perhatian khusus oleh Ir Soekarno

Persija dikala Indonesia masih diduduki oleh belanda sukses menjadi salah satu asset sepakbola Indonesia. Persija juga telah mendapatkan perhatian khusus oleh Ir Soekarno. Pada saat ulang tahun persija yang ke 30, secara khusus Ir Soekarno selaku presiden pertama Indonesia memberikan ucapan selamat. Presiden pertama Indonesia tersebut menjadi saksi bahwa anak muda yang berada di naungan VIJ selalu semangat untuk merebut perampasan tanah oleh belanda.

 

  1. Merah putih berganti orange

Bergantinya kostum bersija dari awalnya merah putih berubah menjadi orange ini merupakan masa kelam yang sulit dilupakan. Warna ini merupakan warna yang lekat dengan emas yang berarti berharga. Deegradasinya persija pada tahun 1985 – 1986 membuat sutiyoso yakni gubernur era itu berniat merubah kostum pemain. Hal ini ternyata membawa aura positif dan menjadi warna baru yang didukung penuh oleh seluruh tim.

 

  1. Mendapatkan posisi juara di 2001

Pada saat liga Indonesia yang hadir di tahun 2001 merupakan titik terang persija. Setelah vacuum selama 17 tahun dan tidak mendapatkan prestasi yang mentereng, akhirnya di liga ke 10 dan 11 persija sukses mendapatkan trofi kemenangan. Kala itu persija sudah menggunakan kostum barunya yang berwarna orange. Disaat pluit mulai bersiul dan sorak dari pendukung persija yang antusias membuat semangat tim persija menjadi menggelora. Persija menang atas PSM dengan nilai skor 3 – 2 dan membuatnya mendapatkan trofi kemenangan.

 

  1. Hutang dan tunggakan menumpuk

Pada saat bergantinya gubernur baru, persija mulai mengalami pasang surut pendanaan. Kala peralihan musim dimulai, peraturan baru dari mendagri yang dimuat pada tahun 2011 melarang penggunaan dana APBD. Pelarangan ini membuat persija pontang – panting mencari dana angina segar dan akhirnya memaksa persija keluar dari super league karena kekurangan dana.

 

  1. Kembali ke merah

Pada hut persija ke 87 keputusan baru diambil. Pada saat itu di tahun 2015 persija berani mengambil langkah untuk mengembalikan kostum kebanggaan awal yakni merah. Dirubahnya warna orange menjadi merah juga menjadi awal baru.

Macan kemayoran merupakan julukan yang dibenamkan didalam diri persija. Julukan ini sekaligus menjadi penyemangat bagi seluruh tim dan pemain sepakbola.